ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Rabu, 06 Oktober 2010

Salma Karimah...


Salma's smile
 
Perasaan baru kemarin aku menggendongnya saat dia terbangun dan nangis ditengah malam. Dan masih terngiang suara dan celotehnya saat menyanyikan lagu “Ummi”-nya Sulis. Dan masih banyak lagi memori-memori yang mengingatkan akan masa kanak-kanaknya. Kini gadis kecilku telah beranjak dewasa, sudah memasuki masa pra baligh. Semua berlalu begitu cepatnya hingga aku melewatkan sedikit masa-masa tumbuh dan berkembangnya. Ia lahir pada hari Senin malam kurang lebih jam 23.00 WIB tanggal 24 Mei 1999 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Biasa orang menyebutnya Rumah Sakit Kartini, entah mengapa. Panjang dan beratnya saya lupa namun yang pasti saat lahirnya rambutnya begitu lebat dan hitam ( kayak rambut bapaknya whahahahah…). Proses persalinannya juga berat karena harus melalui operasi cesar. Tapi Alhamdulillah semuanya sehat wal’afiat. Gadis mungil itu kami beri nama SALMA KARIMAH. Tak terasa kini dia dah duduk di kelas 6 SDIT Insan Kamil Karanganyar. Sebagai anak pertama sudah tentu segala perhatian kami curahkan padanya. Bahkan terkadang sangat memanjakannya. Menginjak usia 1,5 tahun dia saya boyong ke Tapaktuan Kab. Aceh Selatan karena saya pindah tugas dari Solo ke Tapaktuan.
Perjalanan ini sebuah pengalaman yang tak pernah kami lupakan. Isteri dan Salma saya bawa ke Tapaktuan disaat daerah Sumatera Utara  dan Aceh di landa banjir besar pada akhir tahun 2000. Jalan yang harus kami lalui dari Medan menuju Aceh terputus, terpaksa kami harus melewati hutan belantara menyusuri daerah Dolok Sanggul, Tapanuli Selatan, Tarutung, Sibolga, Rimo, Aceh Singkil baru masuk Subulussalam dan terus menuju Tapaktuan. Ternyata perjalanan masih terhambat oleh jalan yang tergenang air setinggi pusar orang dewasa. Akhirnya karena kemalaman kami menginap di daerah Trumon Kab. Aceh Selatan. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga kami buka dan sahur di tempat kami menginap.
Akhir perjalanan kami untuk memasuki Kota Tapaktuan ternyata masih terhambat adanya tanah longsor, padahal jaraknya tinggal lebih kurang 2 km dari kota. Akhirnya kami jalan kaki menyeberang dan barang-barang kami diangkat dengan minta bantuan jasa orang lain kemudian diseberang jalan sudah banyak angkot yang menunggu penumpang yang hendak ke Kota Tapaktuan.
Sebuah pengalaman yang sangat berharga buat saya, isteri dan tentunya Salma yang saat itu baru berumur 1,5 tahun. Kini semua sudah kami lewati dan Salma saat ini sedang giat-giatnya mempersiapkan ujian di kelas 6 nanti agar nanti bisa diterima di SMPIT yang ia ingkinkan.
Di usianya yang belum genap 12 tahun dia tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa (menurut saya dan isteri).  Dia sudah bisa diberi tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya saat isteri ada keperluan hingga harus meninggalkan anak-anak (kami sedang menjalani Long Distance Love, jadi sehari-hari yang ada hanya isteri dan 3 gadis kami  yang lucu-lucu hehehe…). Dan kini dia sudah mantap mengenakan hijab (jilbab) dalam kesehariaannya, tidak hanya kalau sekolah tapi dirumah juga tetap mengenakan . Subhanallah…. Semua kami syukuri sebagai karunia yang tak terkira. Kami harus menjaga karunia itu dengan selalu mensyukuri apa yang telah kami terima. Terus dan terus mensyukuri. Semoga karunia ini terus menyertai kami dan kami diberikan kekuatan untuk mensyukurinya day by day…. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar