ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Senin, 04 Oktober 2010

Bilik itu.....


B
ilik menurut bahasanya berarti ruang yang bersekat atau banyak ruang-ruang kecil yang bersekat. Saya jadi ingat waktu Pilpres, Pileg atau pilkada kemaren. Pada waktu kita pencontrengan kemarin kita melakukannya di dalam bilik. Jadi gambarannya bilik seperti itu. Namun kalau di masyarakat Jawa, rumah-rumah adat biasanya ada bilik-biliknya, yaitu ruangan-ruangan yang bersekat yang terdapat di dalam rumah. Di dalam bilik ruang gerak kita sangat terbatas, dan orang tidak tahu apa yang sedang kita lakukan di dalamnya.
Namun kalau dilihat dari filosofinya, maka bilik mempunyai makna yang dalam sekali. Setiap orang mempunyai kebebasan dalam hidupnya. Namun ternyata kebebasan kita  bukan kebebasan yang mutlak dan tanpa batas. Tapi kebebasan kita dibatasi oleh kepentingan orang lain. Maka dalam hidup ini kita tidak boleh sewenang-wenang. Tapi dalam keterbatasan kita bukan berarti kemudian kita terkekang untuk beraktivitas, namun justru dengan keterbatasan ini kita diharapkan mampu menata dan mengatur hidup kita sehingga hidup kita lebih baik dan dinamis serta mampu memberikan karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Dalam lingkup yang lebih besar  keluarga adalah contohnya. Keluarga adalah satuan terkecil dari sebuah organisasi atau perhimpunan yang terdiri dari ayah (suami), ibu (isteri) dan anak-anak. Sebuah keluarga juga mempunyai kebebasan dalam menentukan langkah-langkahnya. Namun sama halnya dengan kebebasan orang sebagai pribadi ,bahwa kebebasan keluarga  itu bukan kebebasan yang tanpa batas. Ia dibatasi oleh kepentingan keluarga lain. Ia dibatasi oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kita tidak boleh arogan dan memaksakan kehendak. Setiap keluarga mempunyai aturan internal yang barangkali hanya cocok untk keluarga tersebut namum belum tentu cocok untuk keluarga yang lain. Norma-norma internal tersebutlah yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota keluarga. Dan keluarga kita harus menghormatinya sebagaimana keluarga lain menghormati aturan-aturan yang kita terapkan dalam keluarga kita. Pada intinya setiap keluarga mempunyai wilayah teritorial dan hukum sendiri. Namun ia juga harus menghormati wilayah territorial dan hukum keluarga lain. Dan semua harus menjunjung tinggi dan mematuhi norma-norma universal yang berlaku di masyarakat.
Kalaulah sebuah keluarga mempunyai permasalahan, hendaklah permasalahan itu menjadi tanggungjawab setiap anggota keluarga. Jangan sampai permasalahan itu diketahui oleh orang lain. Biarlah orang lain atau keluarga lain hanya melihat kebaikan yang ada pada keluarga tersebut. Dan tidak akan turut campur selama ia tidak diminta bantuan ataupun pertimbangannya dalam menyelesaikan masalah keluarga tersebut.
Jadi melihat makna bilik secara filosofi, kita bisa menjaga privasi keluarga dengan segala keanekaragaman masalahnya namun tetap menjaga hubungan yang baik dengan keluarga lain dan menjunjung tinggi norma-norma universal yang berlaku di masyarakat.
Jadi itulah bilik kami…keluarga  dengan berbagai pernik-pernik kerumahtanggan yang kami miliki, kami mencoba membangunnya  dengan mensinergikan kemampuan dan tenaga yang kami miliki, saya, isteri dan anak-anak.  Saya mencoba merajutnya menjadi sulaman yang begitu menawan walau kadang untuk mewujudkannya banyak menemui onak dan duri. Namun kami yakin kekuatan cinta kami, yang didasari atas saling pengertian, kejujuran, saling keterbukaan dan saling percaya dan tentunya doa yang tiada putus-putusnya kami panjatkan kehadirat Allah Robbul Izaati  disetiap sujud-sujud kami dapat mengantarkan kami melalui badai dalam rumah tangga kami.
Kami yakin dan sadar bahwa rahmat dan karunia-Nya begitu luas. Kalau diibaratkan bumi sebagai kanvas, laut bagaikan tintanya dan pohon-pohon sebagai kuasnya, maka tak akan cukup untuk menuliskan nikmat Allah. Dan kita tidak akan pernah sanggup menghitung-hitungnya namun seringkali kita lupa, sebagaimana Allah berfirman  :
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Qs.14:34)
Mudah-mudahan kami bisa terus mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan kepada kami dengan begitu banyaknya dan tak terkira “Tan kiniro” (dalam bahasa jawanya) sehingga kami bisa menjaga dan membangun keluarga ini menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang bermanfaat tidak saja bagi semua anggotanya namun juga kepada masyarakat disekitarnya, Amin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar