ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Minggu, 17 Oktober 2010

SEPEDA KUMBANG DAN TUANNYA


Jalanan Desa Tegalgede Karanganyar, sebuah desa di timur Kota Solo tepatnya di Lereng Gunung Lawu masih sunyi dan sepi saat bapak mertuaku –selanjutnya aku sebut bapak saja- mengayuh sepeda kumbangnya menyusuri jalanan yang masih sepi dan dingin. Seperti biasa selepas sholat shubuh bapak selalu bersepeda pagi. Bapakku adalah seorang “pecinta sepeda sejati”, kemanapun beliau pergi selalu mengendarai sepeda. Baik itu untuk menghadiri majelis yasinan, mengisi pengajian maupun untuk tindak njagong manten*). Semua aktivitas bapak lakukan dengan bersepeda, kecuali kalau tempatnya jauh biasanya diantar atau seringnya yang punya hajat menjemput bapak di rumah. Singkat kata tiada hari tanpa bersepeda.  Karena cintanya kepada sepeda kumbangnya maka sepeda itu sering dibersihkan dan disemir. Saya masih ingat betul ketika suatu hari selepas membersihkan sepedanya, tiba-tiba mahasiswa yang indekost di rumah kami tanpa sengaja menjatuhkan sepeda bapak, beliau langsung marah, mahasiswa yang kost di rumah kami tersebut sangat ketakutan sampai-sampai ndak bisa ngomong apa-apa. Ya begitulah bapakku…. Kecintaannya kepada sepedanya telah menyatu dalam dirinya. Bahkan di usianya yang tidak lagi muda bapak masih sempat mengikuti acara sepeda santai (saya lupa dalam rangka apa dan diselenggarakan oleh siapa) yang menempuh jarak 40 km dan Alhamdulillah bapak bisa sampai finish.
Hampir seluruh aktivitas bapak dibantu oleh sepeda kumbang kesayangannya. Bahkan saat jemput sekolah cucu-cucunyapun beliau lakukan dengan sepeda kumbangnya. Dulu saat bapak masih memelihara ikan biasanya pagi hari saat mencari makan untuk ikan-ikannya pun beliau lakukan dengan naik sepeda.
Belakangan saat beliau tidak lagi kuat mengendarai sepeda kumbang maka beliau mengendarai sepeda mini yang jauh lebih kecil. Namun yang jelas beliau tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas bersepeda. Dan kegiatan bersepeda itupun tetap beliau lakukan hingga tutup usianya pada Rabu 3 Juni 2009 pukul 23.15 WIB dalam usia 78 tahun.
Kini di sudut gudang di belakang rumah kami…terlihat sebuah sepeda kumbang tua yang telah menemai hari-hari bapak kami di dalam melakukan segenap aktivitasnya. Sepeda kumbang tua itu menjadi saksi atas segala suka duka bapak dalam menjalani hidup ini. Sepeda kumbang tua itu terdiam…. Seakan-akan ia terhanyut dalam kesedihan ditinggalkan tuannya. Tuannya yang selama ini menjadi tempat baginya mengabdikan segenap daya dan kekuatannya. Sepeda kumbang tua itu seakan-akan ingin mengatakan sesuatu kepada tuannya, “ selamat jalan tuan, semoga Allah menggantikan kendaraan yang lebih bagus daripada aku, tuan tidak  perlu bersusah payah mengayuh lagi, sehingga tuan akan cepat sampai menemui Robbul ‘Izati dan mendapat tempat terbaik disisi-NYA.”
Kini sepeda kumbang tua itu menjadi kenangan terindah bagi kami…. Kenangan atas pemiliknya yang begitu kami cintai…. Selamat jalan Bapak…. Kami sangat menyayangi dan mencintaimu…….. Ya Robbi ampunilah segala kesalahan dan kekhilafan Bapak kami….. tempatkanlah dia ditempat yang baik disisi-MU.Amin
*) pergi menghadiri pernikahan











Kamis, 07 Oktober 2010

Naila Hasna


          Naila Hasna, nama gadis kecilku yang paling bungsu. Dialah satu-satunya anak saya yang tidak saya tunggui proses kelahirannya karena dia lahir lebih awal dari perkiran dokter. Kalo kakak-kakaknya lahir di rumah sakit dan dokter yang sama  tapi kalo Naila ini lahir di rumah sakit yang berbeda dan dokter yang menangani proses kelahirannya juga beda tapi semua melalu cesar.
            Lahir pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2007 di Rumah Sakit PKU Karanganyar. Kelahirannya juga maju lebih awal dari perkiraan dokter karena pada hari itu janin dalam kandungan isteri tidak baergerak ato tidak menunjukkan aktivitas padahal kami sudah memprogram agar kelahirannya jatuh pada hari Raya Idhul Adha. Alhamdulillah semua bisa diatasi dan diapun lahir dengan selamat dan sehat semua.
            Dialah satu-satunya yang tidak saya dampingi dalam sehariannya karena saya bekerja di Metro. So pasti saya tidak bisa melihat ataupun mengawasi proses tumbuh kembangnya. Alhamdulillah... Allah SWT kembali memberikan karunia-Nya kepada kami. Walaupun kami jarang bertemu namun Naila begitu dekat dengan saya. Setiap kali saya pulang dia selalu lengket dengan saya…. Jangan sekali-kali ngajak dia pergi kalo kita belum siap2…wow so pasti dia akan ngejar terus… bahkan seringkali dia mo diajak pergi sementara saya mau mandi dulu dia nungguin di depan kamar mandi sambil teriak-terik…hehehe…
            Semua begitu indah…. Saat ini dia menginjak usia 2 tahun lebih 9 bulan. Segala tingkah laku dan gerak-geriknya makin lucu aja. Menggemaskan….. gitu kira-kira. Berat rasanya kalo pas saya harus balik ke Metro lagi…. Saat pamitan dia nanya “Bapak pulangnya jam berapa?” hehe belum lagi berangkat dah ditanya kapan pulang. Kadang ditelpon dia nyanyi…”bapak nggak pulang beibe…” Rasanya mo nangis aja….. bahkan pernah suatu ketika dia main ama keponakan terus ditanya ,” Bapak mana Dik?”, dia jawab..”Aku gak punya bapak”… duh gimana rasanya perasaan ini…walau dia hanya bercanda tapi saya merasa bersalah tidak bisa menemani dia setiap waktu.
            Untuk mengobati kebersamaan yang hilang biasanya saya ama isteri membuat planning untuk mengajak jalan2 bersama mereka sat saya pulang ke kampung. Suatu ketika pernah kami mengajak mereka jalan2 ke persawahan dan di lain waktu kami ngajak dia di toko buku…. ya karena Salma dan Yasmin hobby baca buku… koleksi buku bacaannya dah lumayan banyak sampai disewakan ke temen2nya. Hasil dari sewa dia belikan buku lagi…lumayan. Biasanya habis beli buku kami makan-makan…. Yang penting mereka bisa senang walau kebersamaan ini terasa singkat.
            Namun kami meyakini ketika kebersamaan kita ciptakan sedemikian rupa hingga kualitas interaksi setiap anggota keluarga kuat maka akan melahirkan ikatan yang kuat pula. Kenangan itu akan menjadi keinginan untuk selalu mengulang kebersamaan yang pernah diciptakan.
            Subhanallah….. apapun yang kami jalani dan lalui terasa seperti mimpi…. Awalnya berat harus hidup terpisah namun Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kami untuk menjalaninya sekuat tenaga yang kami mampu. Alhamdulillah kami bisa melewatinya. Kesabaran adalah kunci utamanya…. Kejujuran dan saling percaya menjadi bingkai dalam kami menjalani cinta jarak jauh. Semoga kami selalu diberikan kekuatan untuk mensyukuri nikmat ini…dari menit ke menit…dari jam ke jam….dan dari waktu ke waktu….semoga…










Lucu...

haha...lucu ya

Ini saat di Taman Pintar Jogja

Belajar sholat...

hehe..menggemaskan

Naila Ndut...

Rabu, 06 Oktober 2010

Yasmin Muna...

lesung pipitnya itu lho..hehe

             
Tak pernah terpikirkan sebelumnya harus hidup diperantauan disaat konflik sedang berkecamuk di daerah tersebut. Namun dengan mantap ( dan terpaksa heheh..) saya dan keluarga menjalaninya dengan sabar. Apalagi temen2 disana welcome dan baek-baek. Pokoke semua Indah… kami tinggal di komplek di belakang kantor. Depan rumah kami berhadapan dengan bukit sementara kantor menghadap ke laut..so tempat kami berada di ngarai…antara bukit dan laut. Semua so beautiful…. Luar biasa…. Tapi sayangnya waktu itu belum eranya digital….jadi foto2 kami yang manual dah berserak entah kemana hingga kami gak punya arsipnya lagi. HP? Apalagi….waktu itu HP termasuk barang mewah dan langka untuk telpon keluarga di Jawa kami harus antri di Telkom dengan temen di Marinir yang juga lagi tugas di Tapaktuan.
                Ada kejadian lucu….saat ada latihan menembak yang dilakukan oleh marinir, kebetulan lapangan ada di seberang komplek kami…. Waktu itu istri ketakutan banget padahal lagi hamil anak yang ke-2…. Setelah dikasih tahu tetangga barulah kamu ngerti…
                Banyak hal-hal yang luar biasa kami rasakan di Tapaktuan. Kami mulai bisa menikmati kehidupan kota meski dalam kondisi was-was disaat darurat militer. Hmm…nggak kebayang kami hidup bak tahanan kota. Tapi semua kami nikmati…. Oh ya kami menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) lain dari yang lain. KTP kami adalah KTP Merah Putih yang berlaku selama masa darurat militer. Heheh…sampe sekarang KTP tu masih saya simpan…. ( fotonya ada tuh......)
                Menjelang usia kehamilan 8 bulan isteri saya pulangkan. Biarlah dia melahirkan di kampung, karena disini tidak ada dokter kandungan dan bedah…pokoknya dokter spesialis nggak ada… melihat riwayat kelahiran anak kami yang  pertama melalu cesar maka untuk mengantisipasi segala kemungkinan maka kami memutuskan untuk melahirkan di Karanganyar.
                Bulan Oktober 2001 kami pulang ke Jawa dengan membawa semua baju2 isteri dan Salma… karena kami dah membuat keputusan pasca kelahiran biarlah isteri dan anak2 di Jawa sementara saya di Tapaktuan sendiri. Walau terasa berat namun kami sudah mempertimbangkan masak-masak.
                Setelah sampai di Jawa hari yang diperkirakan isteri melahirkan juga belum menunjukkan tanda2 mau melahirkan. Kami menunggu hingga mau memasuki bulan ke -10, akhirnya dengan pertimbangan medis isteri dioperasi pada hari Selasa tanggal 8 Januari 2002 ( tanggalnya bertepatan dengan ultah SMA saya hehehe…mudah ngingatnya) kurang lebih jam 11.00 wib anak saya yang ke-2 lahir dengan berat badan kurang lebih 4 kg…wow…bayinya gede banget. Lebih gede dari kakaknya. Alhamdulillah sehat semua walau isteri harus di tambah darahnya 4 kantong (2 sebelum dan 2 sesudah). Tapi ibu dan bayinya sehat. Bayi mungil itu kami beri nama YASMIN MUNA, cantik bak bunga jasmine dan membawa harapan…. Mudah2n kelak menjadi wanita yang cantik lahir batin, budi bahasa dan perangainya dan membawa harapan yang baik bagi keluarga, agama dan ummat…amin.
                Kini Yasmin telah duduk di kelas-3 SDIT Insan Kamil, satu sekolah ama mbaknya. Prestasi akademiknya cukup bagus… selalu diatas rata2 kelas dan selalu bersaing ama Zaky (temen sekelasnya) untuk menduduki rangking 1 pararel semua kelas i. Terakhir kemaren terpilih sebagai Murid Teladan SDIT Insan Kamil karena prestasinya selama 1 tahun yang bagus. Alhamdulillah…. Walau prestasi bukan segalanya dan kami juga tidak pernah memaksakan anak untuk menjadi juara 1 namun prestasi tersebut sebuah anugerah yang luar bisa yang kami terima. Hal ini memacu dia untuk lebih giat belajar dimasa-masa yang akan datang.
                Yasmin kini dah 8 tahun…sekolahnya diawali di TK Nurul Islam Liwa Kab. Lampung Barat. O ya…. Setalah pindah dari Aceh ke Liwa semua keluarga saya bawa lagi…. Mereka sekolah di sana. Salma dan Yasmin memulai TK di sana…. Tahun 2007 kami harus pindah ke Metro dan mereka pun ikut pindah. Tak lama di sana saat isteri mau melahirkan anak yang ke-3 semua saya boyong kembali ke kampung di Karanganyar karena isteri mau melahirkan di Karanganyar. Anak-anakpun akhirnya pindah sekolah sampai kini.
                Alhamdulillah semua baek2 saja sampai detik ini. Karunia yang begitu besar yang kesekian kali kami terima dari Allah. Dalam kondisi yang berjauhan kami tetap bisa berkomunikasi dan saat ada waktu untuk bersama-sama kami memanfaatkan kebersamaan itu sebaik-baiknya. Hingga semua terasa begitu indah…. Indah untuk dilalui dan indah untuk dikenang. Mudah-mudahan akan senantiasa ada hari2 yang indah bagi kami untuk terus bisa membangun energy bagi keberlangsungan cinta kasih kami dalam menyongsong hari esok yang lebih baik dengan beribadah dan bekerja yang lebih baik tentunya. Amin

KTP Merah Putih

kenangan tak terlupakan

di lelang laku kali ya...hehehe
Lebaran th 2009 di  RM Mataram Indah

Lembah Hijau Multi Farm Kra

Lagi nunggu bakso ikan patin..hmm yummi

Salma in B/W

Dekik-e ngangeni......

yang rukun ya.....

Salma and Naila

Salma Karimah...


Salma's smile
 
Perasaan baru kemarin aku menggendongnya saat dia terbangun dan nangis ditengah malam. Dan masih terngiang suara dan celotehnya saat menyanyikan lagu “Ummi”-nya Sulis. Dan masih banyak lagi memori-memori yang mengingatkan akan masa kanak-kanaknya. Kini gadis kecilku telah beranjak dewasa, sudah memasuki masa pra baligh. Semua berlalu begitu cepatnya hingga aku melewatkan sedikit masa-masa tumbuh dan berkembangnya. Ia lahir pada hari Senin malam kurang lebih jam 23.00 WIB tanggal 24 Mei 1999 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Biasa orang menyebutnya Rumah Sakit Kartini, entah mengapa. Panjang dan beratnya saya lupa namun yang pasti saat lahirnya rambutnya begitu lebat dan hitam ( kayak rambut bapaknya whahahahah…). Proses persalinannya juga berat karena harus melalui operasi cesar. Tapi Alhamdulillah semuanya sehat wal’afiat. Gadis mungil itu kami beri nama SALMA KARIMAH. Tak terasa kini dia dah duduk di kelas 6 SDIT Insan Kamil Karanganyar. Sebagai anak pertama sudah tentu segala perhatian kami curahkan padanya. Bahkan terkadang sangat memanjakannya. Menginjak usia 1,5 tahun dia saya boyong ke Tapaktuan Kab. Aceh Selatan karena saya pindah tugas dari Solo ke Tapaktuan.
Perjalanan ini sebuah pengalaman yang tak pernah kami lupakan. Isteri dan Salma saya bawa ke Tapaktuan disaat daerah Sumatera Utara  dan Aceh di landa banjir besar pada akhir tahun 2000. Jalan yang harus kami lalui dari Medan menuju Aceh terputus, terpaksa kami harus melewati hutan belantara menyusuri daerah Dolok Sanggul, Tapanuli Selatan, Tarutung, Sibolga, Rimo, Aceh Singkil baru masuk Subulussalam dan terus menuju Tapaktuan. Ternyata perjalanan masih terhambat oleh jalan yang tergenang air setinggi pusar orang dewasa. Akhirnya karena kemalaman kami menginap di daerah Trumon Kab. Aceh Selatan. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga kami buka dan sahur di tempat kami menginap.
Akhir perjalanan kami untuk memasuki Kota Tapaktuan ternyata masih terhambat adanya tanah longsor, padahal jaraknya tinggal lebih kurang 2 km dari kota. Akhirnya kami jalan kaki menyeberang dan barang-barang kami diangkat dengan minta bantuan jasa orang lain kemudian diseberang jalan sudah banyak angkot yang menunggu penumpang yang hendak ke Kota Tapaktuan.
Sebuah pengalaman yang sangat berharga buat saya, isteri dan tentunya Salma yang saat itu baru berumur 1,5 tahun. Kini semua sudah kami lewati dan Salma saat ini sedang giat-giatnya mempersiapkan ujian di kelas 6 nanti agar nanti bisa diterima di SMPIT yang ia ingkinkan.
Di usianya yang belum genap 12 tahun dia tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa (menurut saya dan isteri).  Dia sudah bisa diberi tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya saat isteri ada keperluan hingga harus meninggalkan anak-anak (kami sedang menjalani Long Distance Love, jadi sehari-hari yang ada hanya isteri dan 3 gadis kami  yang lucu-lucu hehehe…). Dan kini dia sudah mantap mengenakan hijab (jilbab) dalam kesehariaannya, tidak hanya kalau sekolah tapi dirumah juga tetap mengenakan . Subhanallah…. Semua kami syukuri sebagai karunia yang tak terkira. Kami harus menjaga karunia itu dengan selalu mensyukuri apa yang telah kami terima. Terus dan terus mensyukuri. Semoga karunia ini terus menyertai kami dan kami diberikan kekuatan untuk mensyukurinya day by day…. Amin.

Senin, 04 Oktober 2010

Bilik itu.....


B
ilik menurut bahasanya berarti ruang yang bersekat atau banyak ruang-ruang kecil yang bersekat. Saya jadi ingat waktu Pilpres, Pileg atau pilkada kemaren. Pada waktu kita pencontrengan kemarin kita melakukannya di dalam bilik. Jadi gambarannya bilik seperti itu. Namun kalau di masyarakat Jawa, rumah-rumah adat biasanya ada bilik-biliknya, yaitu ruangan-ruangan yang bersekat yang terdapat di dalam rumah. Di dalam bilik ruang gerak kita sangat terbatas, dan orang tidak tahu apa yang sedang kita lakukan di dalamnya.
Namun kalau dilihat dari filosofinya, maka bilik mempunyai makna yang dalam sekali. Setiap orang mempunyai kebebasan dalam hidupnya. Namun ternyata kebebasan kita  bukan kebebasan yang mutlak dan tanpa batas. Tapi kebebasan kita dibatasi oleh kepentingan orang lain. Maka dalam hidup ini kita tidak boleh sewenang-wenang. Tapi dalam keterbatasan kita bukan berarti kemudian kita terkekang untuk beraktivitas, namun justru dengan keterbatasan ini kita diharapkan mampu menata dan mengatur hidup kita sehingga hidup kita lebih baik dan dinamis serta mampu memberikan karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Dalam lingkup yang lebih besar  keluarga adalah contohnya. Keluarga adalah satuan terkecil dari sebuah organisasi atau perhimpunan yang terdiri dari ayah (suami), ibu (isteri) dan anak-anak. Sebuah keluarga juga mempunyai kebebasan dalam menentukan langkah-langkahnya. Namun sama halnya dengan kebebasan orang sebagai pribadi ,bahwa kebebasan keluarga  itu bukan kebebasan yang tanpa batas. Ia dibatasi oleh kepentingan keluarga lain. Ia dibatasi oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kita tidak boleh arogan dan memaksakan kehendak. Setiap keluarga mempunyai aturan internal yang barangkali hanya cocok untk keluarga tersebut namum belum tentu cocok untuk keluarga yang lain. Norma-norma internal tersebutlah yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota keluarga. Dan keluarga kita harus menghormatinya sebagaimana keluarga lain menghormati aturan-aturan yang kita terapkan dalam keluarga kita. Pada intinya setiap keluarga mempunyai wilayah teritorial dan hukum sendiri. Namun ia juga harus menghormati wilayah territorial dan hukum keluarga lain. Dan semua harus menjunjung tinggi dan mematuhi norma-norma universal yang berlaku di masyarakat.
Kalaulah sebuah keluarga mempunyai permasalahan, hendaklah permasalahan itu menjadi tanggungjawab setiap anggota keluarga. Jangan sampai permasalahan itu diketahui oleh orang lain. Biarlah orang lain atau keluarga lain hanya melihat kebaikan yang ada pada keluarga tersebut. Dan tidak akan turut campur selama ia tidak diminta bantuan ataupun pertimbangannya dalam menyelesaikan masalah keluarga tersebut.
Jadi melihat makna bilik secara filosofi, kita bisa menjaga privasi keluarga dengan segala keanekaragaman masalahnya namun tetap menjaga hubungan yang baik dengan keluarga lain dan menjunjung tinggi norma-norma universal yang berlaku di masyarakat.
Jadi itulah bilik kami…keluarga  dengan berbagai pernik-pernik kerumahtanggan yang kami miliki, kami mencoba membangunnya  dengan mensinergikan kemampuan dan tenaga yang kami miliki, saya, isteri dan anak-anak.  Saya mencoba merajutnya menjadi sulaman yang begitu menawan walau kadang untuk mewujudkannya banyak menemui onak dan duri. Namun kami yakin kekuatan cinta kami, yang didasari atas saling pengertian, kejujuran, saling keterbukaan dan saling percaya dan tentunya doa yang tiada putus-putusnya kami panjatkan kehadirat Allah Robbul Izaati  disetiap sujud-sujud kami dapat mengantarkan kami melalui badai dalam rumah tangga kami.
Kami yakin dan sadar bahwa rahmat dan karunia-Nya begitu luas. Kalau diibaratkan bumi sebagai kanvas, laut bagaikan tintanya dan pohon-pohon sebagai kuasnya, maka tak akan cukup untuk menuliskan nikmat Allah. Dan kita tidak akan pernah sanggup menghitung-hitungnya namun seringkali kita lupa, sebagaimana Allah berfirman  :
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Qs.14:34)
Mudah-mudahan kami bisa terus mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan kepada kami dengan begitu banyaknya dan tak terkira “Tan kiniro” (dalam bahasa jawanya) sehingga kami bisa menjaga dan membangun keluarga ini menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang bermanfaat tidak saja bagi semua anggotanya namun juga kepada masyarakat disekitarnya, Amin.