Jalanan Desa Tegalgede Karanganyar, sebuah desa di timur Kota Solo tepatnya di Lereng Gunung Lawu masih sunyi dan sepi saat bapak mertuaku –selanjutnya aku sebut bapak saja- mengayuh sepeda kumbangnya menyusuri jalanan yang masih sepi dan dingin. Seperti biasa selepas sholat shubuh bapak selalu bersepeda pagi. Bapakku adalah seorang “pecinta sepeda sejati”, kemanapun beliau pergi selalu mengendarai sepeda. Baik itu untuk menghadiri majelis yasinan, mengisi pengajian maupun untuk tindak njagong manten*). Semua aktivitas bapak lakukan dengan bersepeda, kecuali kalau tempatnya jauh biasanya diantar atau seringnya yang punya hajat menjemput bapak di rumah. Singkat kata tiada hari tanpa bersepeda. Karena cintanya kepada sepeda kumbangnya maka sepeda itu sering dibersihkan dan disemir. Saya masih ingat betul ketika suatu hari selepas membersihkan sepedanya, tiba-tiba mahasiswa yang indekost di rumah kami tanpa sengaja menjatuhkan sepeda bapak, beliau langsung marah, mahasiswa yang kost di rumah kami tersebut sangat ketakutan sampai-sampai ndak bisa ngomong apa-apa. Ya begitulah bapakku…. Kecintaannya kepada sepedanya telah menyatu dalam dirinya. Bahkan di usianya yang tidak lagi muda bapak masih sempat mengikuti acara sepeda santai (saya lupa dalam rangka apa dan diselenggarakan oleh siapa) yang menempuh jarak 40 km dan Alhamdulillah bapak bisa sampai finish.
Hampir seluruh aktivitas bapak dibantu oleh sepeda kumbang kesayangannya. Bahkan saat jemput sekolah cucu-cucunyapun beliau lakukan dengan sepeda kumbangnya. Dulu saat bapak masih memelihara ikan biasanya pagi hari saat mencari makan untuk ikan-ikannya pun beliau lakukan dengan naik sepeda.
Belakangan saat beliau tidak lagi kuat mengendarai sepeda kumbang maka beliau mengendarai sepeda mini yang jauh lebih kecil. Namun yang jelas beliau tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas bersepeda. Dan kegiatan bersepeda itupun tetap beliau lakukan hingga tutup usianya pada Rabu 3 Juni 2009 pukul 23.15 WIB dalam usia 78 tahun.
Kini di sudut gudang di belakang rumah kami…terlihat sebuah sepeda kumbang tua yang telah menemai hari-hari bapak kami di dalam melakukan segenap aktivitasnya. Sepeda kumbang tua itu menjadi saksi atas segala suka duka bapak dalam menjalani hidup ini. Sepeda kumbang tua itu terdiam…. Seakan-akan ia terhanyut dalam kesedihan ditinggalkan tuannya. Tuannya yang selama ini menjadi tempat baginya mengabdikan segenap daya dan kekuatannya. Sepeda kumbang tua itu seakan-akan ingin mengatakan sesuatu kepada tuannya, “ selamat jalan tuan, semoga Allah menggantikan kendaraan yang lebih bagus daripada aku, tuan tidak perlu bersusah payah mengayuh lagi, sehingga tuan akan cepat sampai menemui Robbul ‘Izati dan mendapat tempat terbaik disisi-NYA.”
Kini sepeda kumbang tua itu menjadi kenangan terindah bagi kami…. Kenangan atas pemiliknya yang begitu kami cintai…. Selamat jalan Bapak…. Kami sangat menyayangi dan mencintaimu…….. Ya Robbi ampunilah segala kesalahan dan kekhilafan Bapak kami….. tempatkanlah dia ditempat yang baik disisi-MU.Amin
*) pergi menghadiri pernikahan


















