ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Selasa, 18 Agustus 2026

Belajar Menjadi Orang Tua dari Sayyidah Fatimah az-Zahra


Tidak ada kepastian tunggal yang disepakati mengenai mengapa makam Sayyidah Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha tidak diketahui secara pasti. Dalam riwayat sejarah Islam, terdapat keterangan bahwa beliau berwasiat agar pemakamannya dilakukan pada malam hari dan tidak diumumkan secara luas. Karena itu, lokasi makamnya kemudian tidak dapat dipastikan secara mutlak.

Namun, terlepas dari perbedaan riwayat, ada pelajaran yang sangat dalam bagi orang tua:

  1. Kemuliaan anak tidak selalu ditentukan oleh apa yang terlihat.
    Sayyidah Fatimah adalah putri Rasulullah ﷺ, tetapi kemuliaannya bukan semata karena nasab. Beliau dikenal karena iman, kesabaran, ibadah, kesederhanaan, dan akhlaknya. Maka tugas orang tua bukan hanya membuat anak sukses secara duniawi, tetapi membentuk iman dan akhlaknya.
  2. Ajarkan anak untuk dekat dengan Allah, bukan hanya dekat dengan orang tua.
    Orang tua tidak mungkin mendampingi anak sepanjang hidup. Yang akan menjaga anak ketika orang tua sudah tiada adalah iman yang tertanam dalam dirinya.
  3. Jangan terlalu sibuk mempersiapkan masa depan dunia anak, tetapi lupa mempersiapkan akhiratnya.
    Kita sering memikirkan sekolah mana, pekerjaan apa, rumah bagaimana, dan kehidupannya nanti. Tetapi pertanyaan yang lebih penting: Apakah anak kita mengenal Allah? Apakah ia mencintai Rasulullah ﷺ? Apakah ia memiliki akhlak yang baik?
  4. Ajarkan kesederhanaan dan keteguhan hati.
    Sayyidah Fatimah hidup dalam kesederhanaan, tetapi memiliki kemuliaan yang luar biasa. Anak perlu belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya harta.
  5. Berikan teladan, bukan hanya nasihat.
    Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Jika orang tua ingin anak rajin shalat, membaca Al-Qur'an, menghormati orang lain, dan menjaga lisan, maka orang tua harus terlebih dahulu menjadi contoh.

Renungan bagi orang tua:
Yang kita wariskan kepada anak bukan hanya rumah, tanah, tabungan, pendidikan, atau jabatan. Ada warisan yang jauh lebih berharga: iman, ilmu, akhlak, dan doa.

Karena pada akhirnya, orang tua tidak bisa selamanya menggandeng tangan anak. Tetapi orang tua bisa menanamkan sesuatu yang membuat anak tetap berjalan di jalan Allah, bahkan ketika tangan orang tuanya sudah tidak lagi menggenggam tangannya.

Sumber : Internet

Rabu, 12 Agustus 2026

Tiga Saudari, Satu Jejak Pendidikan, dan Doa yang Allah Wujudkan

 


Ada cerita yang indah ketika perjalanan hidup mempertemukan tiga anak perempuan dalam satu ikatan persaudaraan yang sudah dimulai sejak kecil.

Mereka pernah duduk di bangku TK yang sama. Bermain bersama, belajar bersama, dan mungkin saat itu belum pernah terbayangkan bahwa perjalanan mereka akan membawa mereka begitu jauh—hingga akhirnya kembali dipertemukan di tempat yang sama.

Memasuki jenjang SMP, jalan mereka mulai berbeda. Begitu pula ketika SMA. Mereka menempuh sekolah yang berbeda, tetapi ada satu hal yang tetap menyatukan: mereka sama-sama berada dalam keluarga besar JSIT. Meskipun sekolahnya berbeda, nilai, lingkungan, dan semangat untuk terus belajar tetap menjadi benang merah dalam perjalanan mereka.

Lalu tibalah saat yang menjadi salah satu persimpangan penting dalam hidup: memilih perguruan tinggi.

Jika sejak sekolah mereka menempuh pendidikan di sekolah swasta, mereka bertiga memiliki tekad yang sama ketika memasuki dunia kuliah:

"Kalau kuliah, kami ingin masuk perguruan tinggi negeri. Bukan sekadar kuliah, tetapi di fakultas dan jurusan yang benar-benar kami inginkan."

Dan ternyata, doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.


Allah mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama—Universitas Sebelas Maret (UNS).

Yang sulung memilih Farmasi.
Yang tengah memilih Ilmu Komunikasi.
Dan kini, si bungsu mengikuti jejak kakaknya dengan memilih Farmasi.

Tiga anak, tiga perjalanan, tiga pilihan yang berbeda, tetapi akhirnya berada di kampus yang sama.

Yang sulung telah lebih dahulu menyelesaikan perjuangannya. Setelah melewati masa kuliah dan berbagai proses yang tidak selalu mudah, kini ia sudah bekerja dan mengawali babak baru dalam kehidupannya.

Yang kedua pun demikian. Perjalanannya di Ilmu Komunikasi telah mengantarkannya menuju dunia kerja. Satu per satu mimpi yang dahulu hanya menjadi cita-cita saat masih duduk di bangku sekolah, mulai berubah menjadi kenyataan.

Kini tinggal si bungsu.

Ia baru saja membuka lembaran baru sebagai mahasiswa. Memulai perjalanan yang dahulu pernah ditempuh oleh kedua kakaknya. Kampusnya sama, almamaternya sama, tetapi tentu cerita dan perjuangannya nanti akan menjadi miliknya sendiri.

Melihat mereka hari ini, rasanya seperti melihat sebuah perjalanan panjang yang dirajut Allah dengan cara yang begitu indah.

Dari TK yang sama, kemudian berjalan di SMP dan SMA yang berbeda, tetap berada dalam lingkungan JSIT, lalu dipertemukan kembali di UNS ketika kuliah.

Dan yang paling indah, ternyata cita-cita mereka sejak sekolah bukan sekadar angan-angan.

Mereka pernah berdoa. Mereka pernah berusaha. Mereka pernah berharap. Dan Allah mengabulkannya satu per satu.

Hari ini, dua di antara mereka sudah berdiri di dunia kerja. Sementara si bungsu baru saja melangkahkan kaki memasuki dunia perkuliahan.

Semoga perjalanan si bungsu dimudahkan sebagaimana Allah telah memudahkan langkah kedua kakaknya. Semoga Farmasi UNS menjadi jalan menuju ilmu yang bermanfaat, masa depan yang baik, dan keberkahan hidup.

Karena pada akhirnya, kisah mereka bukan hanya tentang tiga anak yang pernah sekolah bersama.

Ini adalah kisah tentang persaudaraan yang bertahan melewati waktu, mimpi yang diperjuangkan, dan doa-doa yang perlahan Allah jawab.

Dulu mereka hanya tiga anak kecil yang belajar dan bermain bersama.

Kini mereka tumbuh menjadi tiga perempuan dengan jalan hidup masing-masing.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika mereka kembali melihat foto-foto ini, mereka akan tersenyum dan berkata:

"Ternyata perjalanan kita sudah sejauh ini… dan Allah selalu punya cara terbaik untuk mempertemukan kembali."

Semoga persaudaraan ini tetap terjaga, bukan hanya sampai lulus kuliah, bukan hanya sampai mendapatkan pekerjaan, tetapi sampai mereka sama-sama menua dan masih bisa berkata:

"Dari kecil kita sudah bersama. Sampai sekarang pun, kita masih saling mendoakan." 🤍

MasyaAllah, tabarakallah.
Tiga perjalanan, satu almamater, dan begitu banyak doa yang Allah kabulkan.
Semoga langkah berikutnya selalu dipenuhi keberkahan.

Senin, 10 Agustus 2026

Melintasi Jarak, Merawat Janji


Di antara derak waktu dan bentangan ribuan kilometer, janji yang kita tancapkan di awal ikatan ini tidak pernah bergeser sedikit pun. Sejak hari pertama mengayuh bahtera ini bersama, kita telah menyadari bahwa jalan yang kita tempuh tak selalu membiarkan kita berdiri di bawah satu atap yang sama. Panggilan tugas dan pengabdian datang silih berganti, membawa jejak langkah yang memisahkan, namun tak pernah sekalipun mengoyak kesetiaan yang telah kita semaikan.

Langkah kaki ini telah menjejak di berbagai pelosok negeri, dari keheningan Aceh Selatan hingga lekuk perbukitan Liwa, melewati sudut-sudut kota di Metro dan Semarang, hingga terbang jauh menyeberangi lautan menuju rumpun hijau Jayapura dan riuhnya pesisir Makassar. Menjalani hubungan jarak jauh di antara deretan kota penugasan tersebut mengajarkan kita arti ketabahan yang sesungguhnya. Ada malam-malam sunyi di mana sapaan hanya bisa diwakili oleh layar tipis dan gema suara di balik telepon. Namun, jarak geografis yang terbentang di peta Indonesia hanyalah ukuran ruang, bukan penentu jarak hati. Perpisahan fisik ini justru menjadi medan ujian yang membuktikan betapa kokohnya pondasi kepercayaan, kesabaran, dan komitmen yang telah kita sepakati sejak awal.

Kini, perjalanan panjang yang melintasi pulau dan samudra itu menemukan muara tenangnya. Panggilan tugas yang baru membawa kita ke Surakarta, dan di bumi Karanganyar inilah kita akhirnya kembali berteduh dan menetap di bawah satu atap yang sama. Tempat di mana riuh rindu yang dahulu terpisah ribuan kilometer kini lebur menjadi kehangatan menyapa pagi bersama, menikmati secangkir teh di sore hari, dan mengucap syukur tanpa lagi terhalang oleh jeda jarak.

Setiap kilometer yang pernah membentang antara Aceh Selatan, Lampung, Jawa, Papua, hingga Sulawesi tidak ada yang sia-sia. Semua perpisahan masa lalu kini menjelma menjadi fondasi yang memperkuat mahligai ini, membuktikan bahwa sejauh apa pun tugas membawa langkah pergi, komitmen dan cinta akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

Selasa, 28 Juli 2026

The Real King

     Meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 2 Oktober 1988 di Amerika Serikat menjadi salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Yogyakarta. Beliau wafat saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Washington, D.C., dalam usia 76 tahun. Kabar duka itu segera menyelimuti Keraton Yogyakarta dan seluruh masyarakat yang selama puluhan tahun mengenalnya bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai sosok bapak yang sederhana, dekat dengan rakyat, dan mengabdikan hidupnya bagi bangsa.



Kesedihan yang begitu mendalam tidak hanya disebabkan oleh wafatnya seorang Sultan. Bagi masyarakat Yogyakarta, Hamengkubuwono IX adalah simbol keteladanan. Sejak muda, beliau dikenal menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ketika Indonesia baru merdeka, beliau bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengambil keputusan bersejarah dengan menyatakan Kesultanan Yogyakarta bergabung ke dalam Republik Indonesia. Bahkan ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta pada masa revolusi, beliau memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Republik, termasuk menyediakan fasilitas dan sumber daya kerajaan demi mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai Sultan, beliau tidak membangun jarak dengan rakyatnya. Masyarakat sering melihat beliau turun langsung ke lapangan, berbincang dengan petani, menyapa pedagang, maupun menghadiri kegiatan masyarakat tanpa kemewahan yang berlebihan. Sikap hidup sederhana, rendah hati, dan penuh integritas itulah yang membuat rakyat merasa benar-benar memiliki seorang pemimpin, bukan sekadar seorang raja.

Ketika jenazah beliau dipulangkan ke Yogyakarta, lautan manusia memenuhi jalan-jalan kota. Ribuan hingga ratusan ribu orang—bahkan banyak yang menggambarkannya mencapai jutaan jika dihitung sepanjang rute dan masyarakat yang datang silih berganti—berdiri di sepanjang jalan hanya untuk memberikan penghormatan terakhir. Tidak sedikit yang menangis, menundukkan kepala, atau mengucapkan doa ketika iring-iringan jenazah melintas.

Prosesi pemakaman menuju kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri berlangsung dengan khidmat. Bagi masyarakat Yogyakarta, hari itu bukan hanya prosesi pemakaman seorang Sultan, melainkan perpisahan dengan seorang pemimpin yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama puluhan tahun. Banyak warga rela berjalan jauh, berdesakan, bahkan menunggu berjam-jam demi dapat menyaksikan iring-iringan terakhir sang Sultan.

Kepergian beliau juga meninggalkan kekosongan dalam kehidupan berbangsa. Selain sebagai Sultan, Hamengkubuwono IX pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Menteri Pertahanan, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan dipercaya memegang berbagai amanah penting negara. Namun, di balik semua jabatan itu, yang paling dikenang masyarakat adalah kesederhanaan dan kejujurannya.

Ada ungkapan yang sering terdengar di Yogyakarta setelah kepergian beliau:

"Yogyakarta kehilangan rajanya, tetapi Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya."

Hingga kini, nama Hamengkubuwono IX tetap dikenang sebagai teladan kepemimpinan yang mengutamakan pengabdian daripada kekuasaan. Itulah sebabnya mengapa setiap kali kisah beliau diceritakan, masyarakat Yogyakarta tidak hanya mengingat seorang Sultan, tetapi juga sosok pemimpin yang benar-benar dicintai rakyatnya karena ketulusan, keberanian, dan pengorbanannya untuk negeri.

Saya menjadi saksi atas peristiwa pemakaman beliau karena saat itu saya ikut menjadi pagar betis dijalan yang dilewati kereta jenazah beliau. 

Sugeng tindak, Ngarso Dalem. Matur nuwun sampun maringi tuladha lan pengabdian dumateng Ngayogyakarta kaliyan Indonesia. Asma panjenengan badhe tansah kaéling wonten manahipun rakyat. Mugi pinaringan papan ingkang paling mulya wonten ngarsanipun Gusti Allah. Aamiin



Minggu, 26 Juli 2026

Saat Anak-Anak Pulang, Bahagia Itu Kembali Lengkap.

Pulang. Satu kata yang sederhana, tetapi selalu memiliki makna yang begitu dalam. Bukan sekadar kembali ke sebuah rumah, melainkan kembali ke tempat di mana kasih sayang selalu menunggu tanpa syarat.

Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan ketika anak-anak pulang dan seluruh keluarga akhirnya bisa berkumpul. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas masing-masing sering kali membuat waktu bersama menjadi sesuatu yang sangat berharga. Hari-hari berlalu dengan cepat, hingga tanpa terasa momen berkumpul semakin jarang terjadi. Karena itu, setiap kesempatan untuk duduk semeja adalah anugerah yang patut disyukuri.

Makan bersama bukan hanya tentang menikmati hidangan yang tersaji. Di balik setiap suapan, ada cerita yang saling dibagikan. Ada tawa yang menghangatkan suasana, canda yang menghapus penat, dan perhatian kecil yang membuat hati merasa tenang. Obrolan yang mungkin terdengar sederhana justru menjadi kenangan yang akan terus dikenang di kemudian hari.

Melihat senyum anak-anak yang kini mulai tumbuh dewasa menghadirkan rasa haru tersendiri. Dulu mereka selalu berada di rumah, kini mereka memiliki jalan dan kesibukannya masing-masing. Namun, sejauh apa pun langkah mereka pergi, rumah ini akan selalu menjadi tempat untuk kembali. Dan sebagai orang tua, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat mereka pulang dalam keadaan sehat, berkumpul kembali, dan menikmati waktu bersama keluarga.

Foto ini mungkin hanya mengabadikan beberapa detik dari sebuah pertemuan. Namun sesungguhnya, yang terekam bukan sekadar senyuman di depan kamera. Yang tersimpan adalah rasa syukur karena Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk berkumpul, berbagi cerita, saling menguatkan, dan menikmati nikmat kebersamaan yang tidak semua orang dapat rasakan.

Semoga momen-momen sederhana seperti ini tidak pernah berhenti menghiasi perjalanan hidup kami. Semoga Allah senantiasa menjaga langkah anak-anak di mana pun mereka berada, melapangkan rezeki mereka, memudahkan setiap urusan, dan selalu mengembalikan mereka ke rumah dengan membawa kabar baik, kesehatan, serta kebahagiaan.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang paling tulus bukanlah tentang kemewahan atau tempat yang megah. Kebahagiaan itu adalah ketika sebuah meja makan dipenuhi keluarga, dipenuhi tawa, dipenuhi doa, dan dipenuhi rasa syukur. Sebab, selama masih ada kesempatan untuk berkumpul, masih ada alasan untuk mengucapkan, "Alhamdulillah, keluarga kami masih lengkap dan bisa menikmati indahnya kebersamaan.

Senin, 20 Juli 2026

Kisah Ummu Aiman, Wanita yang Dijamin Surga oleh Rasulullah SAW

Kisah Ummu Aiman adalah salah satu kisah sahabat perempuan Nabi Muhammad ﷺ yang sangat menyentuh. Nama aslinya Barakah binti Tsa‘labah (atau Barakah al-Habasyiyyah). Ia berasal dari Habasyah (Ethiopia) dan sejak kecil menjadi pengasuh Nabi ﷺ setelah wafatnya ayah beliau, Abdullah.

Mengasuh Nabi sejak kecil

Setelah Abdullah wafat, Nabi Muhammad ﷺ diasuh oleh ibunda beliau, Aminah binti Wahb. Ummu Aiman membantu merawat Nabi kecil dengan penuh kasih sayang.

Ketika Nabi berusia sekitar 6 tahun, Aminah mengajak beliau ke Madinah untuk mengunjungi kerabat dari Bani Najjar. Dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan wafat di daerah Abwa’.

Bayangkan keadaan Nabi kecil saat itu: ayah sudah wafat sebelum beliau lahir, lalu ibunda tercinta wafat di tengah perjalanan. Ummu Aiman-lah yang menemani dan membawa Nabi kecil kembali ke Makkah. Ia menghibur beliau dan menjaga beliau sepanjang perjalanan.

Dimerdekakan dan dinikahkan

Ketika Nabi ﷺ dewasa, beliau memerdekakan Ummu Aiman. Setelah itu beliau menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah, sahabat yang sangat dicintai Nabi ﷺ.

Dari pernikahan itu lahirlah Usamah bin Zaid, yang kemudian menjadi panglima besar kaum muslimin di usia muda dan sangat dicintai Rasulullah ﷺ.

Hijrah dengan penuh pengorbanan

Saat kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, Ummu Aiman juga ikut berhijrah. Ia menempuh perjalanan yang sangat berat di tengah panas gurun.

Dikisahkan ia kehausan hingga hampir tidak kuat melanjutkan perjalanan. Lalu Allah memberikan pertolongan kepadanya dengan turunnya air dari langit sehingga ia dapat minum dan melanjutkan hijrah.

Kisah ini menunjukkan keimanan dan keteguhan seorang perempuan yang sudah berusia lanjut namun tetap berjuang demi agamanya.

Tangis setelah wafatnya Nabi ﷺ

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar dan Umar bin Khattab datang mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana Nabi dahulu sering mengunjunginya.

Mereka mendapati Ummu Aiman menangis. Abu Bakar berkata:

“Apa yang membuatmu menangis? Bukankah apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah?”

Ummu Aiman menjawab:

“Aku tidak menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah. Aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”

Mendengar jawaban itu, Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis.

Pelajaran dari kisah Ummu Aiman

Beberapa hikmah yang bisa kita ambil:

  • Kesetiaan: Ia setia mendampingi Nabi sejak kecil hingga akhir hayat beliau.

  • Kasih sayang: Rasulullah ﷺ tidak melupakan jasa orang yang pernah merawatnya.

  • Kemuliaan tidak ditentukan oleh asal-usul: Ummu Aiman berasal dari Habasyah dan pernah menjadi budak, tetapi Allah memuliakannya karena iman dan amalnya.

  • Keteguhan dalam hijrah dan dakwah: Usia dan kesulitan tidak menghalanginya untuk taat kepada Allah.

  • Cinta kepada wahyu: Tangisnya menunjukkan kerinduan kepada turunnya wahyu dan kedekatan hatinya dengan agama.

  • https://www.youtube.com/watch?v=pz-L7ZJe4lc