Meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 2 Oktober 1988 di Amerika Serikat menjadi salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Yogyakarta. Beliau wafat saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Washington, D.C., dalam usia 76 tahun. Kabar duka itu segera menyelimuti Keraton Yogyakarta dan seluruh masyarakat yang selama puluhan tahun mengenalnya bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai sosok bapak yang sederhana, dekat dengan rakyat, dan mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Kesedihan yang begitu mendalam tidak hanya disebabkan oleh wafatnya seorang Sultan. Bagi masyarakat Yogyakarta, Hamengkubuwono IX adalah simbol keteladanan. Sejak muda, beliau dikenal menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ketika Indonesia baru merdeka, beliau bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengambil keputusan bersejarah dengan menyatakan Kesultanan Yogyakarta bergabung ke dalam Republik Indonesia. Bahkan ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta pada masa revolusi, beliau memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Republik, termasuk menyediakan fasilitas dan sumber daya kerajaan demi mempertahankan kemerdekaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar