ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Selasa, 28 Juli 2026

The Real King

     Meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 2 Oktober 1988 di Amerika Serikat menjadi salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Yogyakarta. Beliau wafat saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Washington, D.C., dalam usia 76 tahun. Kabar duka itu segera menyelimuti Keraton Yogyakarta dan seluruh masyarakat yang selama puluhan tahun mengenalnya bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai sosok bapak yang sederhana, dekat dengan rakyat, dan mengabdikan hidupnya bagi bangsa.



Kesedihan yang begitu mendalam tidak hanya disebabkan oleh wafatnya seorang Sultan. Bagi masyarakat Yogyakarta, Hamengkubuwono IX adalah simbol keteladanan. Sejak muda, beliau dikenal menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ketika Indonesia baru merdeka, beliau bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengambil keputusan bersejarah dengan menyatakan Kesultanan Yogyakarta bergabung ke dalam Republik Indonesia. Bahkan ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta pada masa revolusi, beliau memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Republik, termasuk menyediakan fasilitas dan sumber daya kerajaan demi mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai Sultan, beliau tidak membangun jarak dengan rakyatnya. Masyarakat sering melihat beliau turun langsung ke lapangan, berbincang dengan petani, menyapa pedagang, maupun menghadiri kegiatan masyarakat tanpa kemewahan yang berlebihan. Sikap hidup sederhana, rendah hati, dan penuh integritas itulah yang membuat rakyat merasa benar-benar memiliki seorang pemimpin, bukan sekadar seorang raja.

Ketika jenazah beliau dipulangkan ke Yogyakarta, lautan manusia memenuhi jalan-jalan kota. Ribuan hingga ratusan ribu orang—bahkan banyak yang menggambarkannya mencapai jutaan jika dihitung sepanjang rute dan masyarakat yang datang silih berganti—berdiri di sepanjang jalan hanya untuk memberikan penghormatan terakhir. Tidak sedikit yang menangis, menundukkan kepala, atau mengucapkan doa ketika iring-iringan jenazah melintas.

Prosesi pemakaman menuju kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri berlangsung dengan khidmat. Bagi masyarakat Yogyakarta, hari itu bukan hanya prosesi pemakaman seorang Sultan, melainkan perpisahan dengan seorang pemimpin yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama puluhan tahun. Banyak warga rela berjalan jauh, berdesakan, bahkan menunggu berjam-jam demi dapat menyaksikan iring-iringan terakhir sang Sultan.

Kepergian beliau juga meninggalkan kekosongan dalam kehidupan berbangsa. Selain sebagai Sultan, Hamengkubuwono IX pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Menteri Pertahanan, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan dipercaya memegang berbagai amanah penting negara. Namun, di balik semua jabatan itu, yang paling dikenang masyarakat adalah kesederhanaan dan kejujurannya.

Ada ungkapan yang sering terdengar di Yogyakarta setelah kepergian beliau:

"Yogyakarta kehilangan rajanya, tetapi Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya."

Hingga kini, nama Hamengkubuwono IX tetap dikenang sebagai teladan kepemimpinan yang mengutamakan pengabdian daripada kekuasaan. Itulah sebabnya mengapa setiap kali kisah beliau diceritakan, masyarakat Yogyakarta tidak hanya mengingat seorang Sultan, tetapi juga sosok pemimpin yang benar-benar dicintai rakyatnya karena ketulusan, keberanian, dan pengorbanannya untuk negeri.

Saya menjadi saksi atas peristiwa pemakaman beliau karena saat itu saya ikut menjadi pagar betis dijalan yang dilewati kereta jenazah beliau. 

Sugeng tindak, Ngarso Dalem. Matur nuwun sampun maringi tuladha lan pengabdian dumateng Ngayogyakarta kaliyan Indonesia. Asma panjenengan badhe tansah kaéling wonten manahipun rakyat. Mugi pinaringan papan ingkang paling mulya wonten ngarsanipun Gusti Allah. Aamiin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar