ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Kamis, 29 Mei 2014

Saatnya Membangun Bangsa dimulai dengan Membangun Keteladanan Diri



             Hari-hari belakangan ini fitnah, caci maki dan hujatan begitu banyak mewarnai mass media dan sosmed. Ya rangkaian pesta demokrasi telah begitu banyak melahirkan para pengamat politik  dan juga para jurkam yang saling melemparkan 'black campaign' yang tentunya untuk menjatuhkan lawan politik atau pesaingnya. Monggo silahkan saja mereka saling serang menyerang....saya hanya bisa ngelus dada. Ternyata perjalanan demokrasi di negara ini sedemikian buramnya...maaf saya sedang mencoba melihat dinamika politik negara kita dari kacamata saya sebagai orang awam yang tak paham dunia politik namun bisa melihat dan membaca situasi yang berkembang di masyarakat kita. Sebuah keprihatinan yang mendalam ketika banyak pribadi-pribadi yang kehilangan rasa santun bahkan tak sedikitpun rasa takut dalam dirinya jatuh kedalam kubangan dosa manakala cacian dan hujatan begitu deras bak air bah dia lontarkan kepada lawan politiknya.Prasangka tanpa bukti itu fitnah. Apa iya kita tahu detail kehidupan pribadinya? Kalau kita tidak tahu lebih baik diam. Kalaupun kita ingin tahu maka lihatlah siapa teman dan orang-orang disekelilingnya.“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Tipu menipu dan rayuan gombalpun kadang menghiasi setiap tutur katanya untuk mencari simpati rakyat. Padahal Allah mengajarkan kita untuk berbuat adil. “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8). Mungkin begitulah skenario yang harus dijalani oleh bangsa ini saat kekuasaan menjadi sesuatu yang prestisius untuk direbutkan. Sebuah amanah yang berat untuk dipikul tapi menggiurkan untuk direbut. Sebuah tanggung jawab yang besar yang kelak akan Allah tanyakan di yaumul akhir tapi diperjuangkan dengan cara-cara yang kadang tidak halal.
                Hari-hari ini kita membutuhkan pribadi-pribadi yang penuh keteladanan. Sosok yang santun dalam bertutur kata. Sikap dan pribadinya bisa menjadi teladan siapapun. Dia bisa diterima dan dihargai oleh siapa saja. Adakah pribadi yang ideal seperti itu? Pribadi yang sempurna sangatlah tidak mungkin. Karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Azza wa Jalla, Robbul Izzati. Dan pribadi yang menjadi teladan sepanjang zaman hanyalah Rasulullah SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21). Generasi terbaikpun adalah generasi para sahabat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198).
               Mungkin kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Tapi mereka telah memberikan pelajaran terbaik bagi kita. untuk kita ikuti dan kita teladani. Mulailah dari diri kita masing-masing. Marilah kita munculkan keteladanan dalam diri kita. Kita bangun keluarga kita menjadi model keluarga seperti masa rasul dan shahabat. Jikalau kita mampu mewujudkannya maka tidak mustahil akan terbentuk masyarakat yang baik dan akan lahirlah bangsa yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur

                   Kita sebagai bagian dari masyarakat, tentunya memiliki keinginan agar rakyat bangsa ini, selamat dunia dan akhirat, menjadi masayarakat yang adil, makmur, sejahtera, diberkahi dan diridloi Allah (baldatun thayyibatun warabbun ghafur). Hal ini disebabkan karena masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah merupakan cita-cita tertinggi masyarakat khususnya ummat Islam.
                   Namun usaha kita untuk menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur ini belum pernah terlihat eksistensinya dalam keseharian kita. Salah satu contoh adalah penerapan aqidah dan keimanan. Aqidah dan keimanan yang merupakan pondasi umat Islam di Dunia ini dengan cepatnya mudah goyah, hanya karena urusan perut dan dibawah perut. Sehingga sering membuat manusia gelap mata dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah sehingga mnusia tidak akan pernah bisa menjadi orang bertaqwa. Padahal kunci menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah Iman dan Taqwa, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surat al-‘Araf : 96
(Lau anna ahla al-Quraa aamanu wattaqauu, lafatahna ’alaihim barokatin mina al-samaai wa al-ardl, walakin kadzdzabuu fa’akhadznahum bima kaanuu yaksibuun).Al-Aayah.

Artinya:”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dalam ayat ini Allah berjanji akan menjadikan masyarakat negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur jikalau masyarakatnya beriman dan bertaqwa. Namun jika manusia yang ada di dunia ini tidak beriman dan bertaqwa, maka Allah akan berikan adzab sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.
Namun, yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertaqwa? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertaqwa itu? yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.
           So mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita baru kemudian masyarakat dan bangsa kita. Membangun keteladanan dari diri kita untuk melahirkan baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Jangan sampai kita terjebak dalam perkataan-perkataan dan perbuatan yang hanya akan menjatuhkan diri kita pada perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Berbuat dan berkarya dengan baik dan menjauhkan diri dari kehancuran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Karena, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."(QS. Al-Baqarah : 195).