Hari-hari belakangan
ini fitnah, caci maki dan hujatan begitu banyak mewarnai mass media dan sosmed.
Ya rangkaian pesta demokrasi telah begitu banyak melahirkan para pengamat
politik dan juga para jurkam yang saling melemparkan 'black campaign' yang
tentunya untuk menjatuhkan lawan politik atau pesaingnya. Monggo silahkan saja
mereka saling serang menyerang....saya hanya bisa ngelus dada. Ternyata
perjalanan demokrasi di negara ini sedemikian buramnya...maaf saya sedang
mencoba melihat dinamika politik negara kita dari kacamata saya sebagai orang
awam yang tak paham dunia politik namun bisa melihat dan membaca situasi yang
berkembang di masyarakat kita. Sebuah keprihatinan yang mendalam ketika banyak
pribadi-pribadi yang kehilangan rasa santun bahkan tak sedikitpun rasa takut
dalam dirinya jatuh kedalam kubangan dosa manakala cacian dan hujatan begitu deras bak air bah dia
lontarkan kepada lawan politiknya.Prasangka tanpa bukti itu fitnah. Apa iya kita tahu detail kehidupan pribadinya? Kalau kita tidak tahu lebih baik diam. Kalaupun kita ingin tahu maka lihatlah siapa teman dan orang-orang disekelilingnya.“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Tipu menipu dan rayuan gombalpun kadang
menghiasi setiap tutur katanya untuk mencari simpati rakyat. Padahal Allah mengajarkan kita untuk berbuat adil. “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang
yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak
berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8). Mungkin begitulah skenario
yang harus dijalani oleh bangsa ini saat kekuasaan menjadi sesuatu yang
prestisius untuk direbutkan. Sebuah amanah yang berat untuk dipikul tapi
menggiurkan untuk direbut. Sebuah tanggung jawab yang besar yang kelak akan
Allah tanyakan di yaumul akhir tapi diperjuangkan dengan cara-cara yang kadang
tidak halal.
Hari-hari ini kita membutuhkan
pribadi-pribadi yang penuh keteladanan. Sosok yang santun dalam bertutur kata.
Sikap dan pribadinya bisa menjadi teladan siapapun. Dia bisa diterima dan
dihargai oleh siapa saja. Adakah pribadi yang ideal seperti itu? Pribadi yang
sempurna sangatlah tidak mungkin. Karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah
milik Allah Azza wa Jalla, Robbul Izzati. Dan pribadi yang menjadi teladan
sepanjang zaman hanyalah Rasulullah SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21). Generasi terbaikpun adalah generasi para sahabat.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa
hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah
meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di
kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka
membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh
Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk
menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan
tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas
jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198).
Mungkin kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Tapi mereka telah memberikan pelajaran terbaik bagi kita. untuk kita ikuti dan kita teladani. Mulailah dari diri kita masing-masing. Marilah kita munculkan keteladanan dalam diri kita. Kita bangun keluarga kita menjadi model keluarga seperti masa rasul dan shahabat. Jikalau kita mampu mewujudkannya maka tidak mustahil akan terbentuk masyarakat yang baik dan akan lahirlah bangsa yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur
Kita
sebagai bagian dari masyarakat, tentunya memiliki keinginan agar rakyat
bangsa ini, selamat dunia dan akhirat, menjadi masayarakat yang adil,
makmur, sejahtera, diberkahi dan diridloi Allah (baldatun thayyibatun warabbun ghafur).
Hal ini disebabkan karena masyarakat baldatun thayyibatun warabbun
ghafur adalah merupakan cita-cita tertinggi masyarakat khususnya ummat
Islam.
Namun usaha kita untuk menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur ini
belum pernah terlihat eksistensinya dalam keseharian kita. Salah satu
contoh adalah penerapan aqidah dan keimanan. Aqidah dan keimanan yang
merupakan pondasi umat Islam di Dunia ini dengan cepatnya mudah goyah,
hanya karena urusan perut dan dibawah perut. Sehingga sering membuat
manusia gelap mata dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah
sehingga mnusia tidak akan pernah bisa menjadi orang bertaqwa. Padahal
kunci menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah
Iman dan Taqwa, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surat
al-‘Araf : 96(Lau anna ahla al-Quraa aamanu wattaqauu, lafatahna ’alaihim barokatin mina al-samaai wa al-ardl, walakin kadzdzabuu fa’akhadznahum bima kaanuu yaksibuun).Al-Aayah.
Artinya:”Jikalau
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya”.
Dalam
ayat ini Allah berjanji akan menjadikan masyarakat negeri ini menjadi
baldatun thayyibatun warabbun ghafur jikalau masyarakatnya beriman dan
bertaqwa. Namun jika manusia yang ada di dunia ini tidak beriman dan
bertaqwa, maka Allah akan berikan adzab sesuai dengan apa yang telah
mereka perbuat.
Namun, yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertaqwa? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertaqwa itu? yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.
Namun, yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertaqwa? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertaqwa itu? yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.
So mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita baru kemudian masyarakat dan bangsa kita. Membangun keteladanan dari diri kita untuk melahirkan baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Jangan sampai kita terjebak dalam perkataan-perkataan dan perbuatan yang hanya akan menjatuhkan diri kita pada perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Berbuat dan berkarya dengan baik dan menjauhkan diri dari kehancuran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Dan
belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Karena,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."(QS.
Al-Baqarah : 195).