ASSALAMUALAIKUM. SELAMAT DATANG DI BILIKKAMI.

Rabu, 01 Oktober 2025

Saat Letih Berganti Bahagia

Setelah sekian lama merasakan jarak yang memisahkan, sekarang hati ini benar-benar dipenuhi rasa haru, bahagia, dan syukur yang tak terhingga. Perjalanan panjang bekerja jauh dari keluarga telah mengajarkan arti kerinduan, arti pengorbanan, dan betapa berharganya setiap momen kebersamaan. Kini, semua lelah, rindu, dan doa yang tak pernah putus akhirnya terbayar dengan indahnya pertemuan kembali bersama orang-orang tercinta. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada bisa kembali duduk bersama, bercengkerama, mendengar tawa mereka, dan merasakan hangatnya pelukan keluarga yang selama ini hanya bisa diangan-angankan. Segala rasa letih seakan sirna digantikan oleh ketenangan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hanya rasa syukur mendalam yang terus terucap kepada Tuhan atas karunia luar biasa ini, karena akhirnya saya bisa kembali menjadi bagian dari setiap langkah, cerita, dan kebersamaan keluarga tercinta yang selama ini dirindukan.




Jumat, 22 Desember 2023

 Papua, Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi...


        Perjalanan hidup selalu penuh dengan misteri. Tidak seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya bisa minta dalam setiap doa-doa kita untuk bisa selalu berada bersama dengan keluarga, namun Allah jualah yang menentukan kearah mana perjalanan ini akan berlanjut. Dalam perjalanan pengabdian sayapun juga tidak tahu kalau Kota Jayapura, di pulau Papua menjadi persinggahan dalam perjalanan pengabdian saya di Kementerian Keuangan setelah Solo, Tapaktuan Aceh Selatan, Liwa Lampung Barat, Metro, dan Semarang. Perasaan berkecamuk dan dada yang bergemuruh kembali saya rasakan sama persis saat menerima berita mutasi saya dari Kota Solo ke Tapaktuan, Kab. Aceh Selatan karena konflik masih terjadi di belahan bumi Nanggroe Aceh Darussalam pada saat itu. Butuh waktu untuk bisa menerima berita penugasan itu. Namun akhirnya muncul kesadaran bahwa ini sebuah penugasan yang harus ditunaikan. Ini adalahTour of Duty yang harus dinikmati.

        Bayangan akan sebuah kota yang masih jauh dari keramaian menggelayut dalam pikiran saya. Keterbatasan fasilitas juga menjadi hal yang mengganggu benak saya pada saat itu. Namun bayangan itu sirna manakala Rabu10 Oktober 2018 saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Sentani, Jayapura. Pegunungan Cycloop dengan ketinggian 2.160m yang memisahkan Jayapura dengan Lautan Pasifik menjulang tinggi di depan Bandara Sentani dengan Indahnya. Danau Sentani dengan warna biru membentang sepanjang perjalanan ke Kota Jayapura seolah juga ikut menyambut kedatang saya. Jayapura Saya Datang!

      Banyak cerita dan kisah yang saya alami selama pengabdian di Kota Jayapura. Mulai dari banjir bandang di Sentani yang memporakporandakan Sentani dan merusak beberapa infrastruktur, kemudian konflik yang mengharuskan kami eksodus ke Makassar, dan terakhir Jayapura di Lockdown selama 3 bulan , bandara Sentani ditutup total pada saat covid-19 dan tidak ada penerbangan sama sekali dari dan menuju Jayapura menjadi kisah yang mengharu biru.

            Banyaka keindahan alam Papua yang tidak akan cukup untuk digambarkan. Bahkan foto saya yang adapun tidak cukup untuk saya tampilkan disini. Semua indah dan sangat alami. Benar kata orang bahwa "Papua surga kecil yang jatuh ke bumi.

                                    Danau Sentani

                                           

                                                Pemandangan dari Puncak Jayapura City

Bandar Udara Sentani


                               Komplek Pemda Kab. Jayapura dengan latar Belakang Gunung Cyloop

        




Kamis, 21 Desember 2023

 Dan Senjapun Berlalu....


Ketika senja mulai berarak pulang, maka satu haripun telah berlalu membawa sisa umur kita. Kita tidak akan pernah tahu apakah senja akan kembali mengantarkan kita menyusuri sisa waktu kita. 

Sebuah kenangan akan tertinggal bersama perjalanan waktu. Cerita demi cerita akan menjadi kumpulan kisah yang mewarnai hidup kita. Setiap cerita memiliki goresan yang berbeda sehingga menjadikan kumpulan kisah hidup kita ini penuh warna-warni.

Semoga selalu ada kebahagiaan dalam perjalanan kita meskipun ada terselip kisah duka dan nestapa. Semua menjadi harmoni dalam satu melodi layaknya tuts piano. Hitam dan putih selalu bergantian memainkan peran dan akan menghasilkan nada yang indah.

Di penghujung tahun 2023 semoga Allah senantiasa berikan kesehatan dan kekuatan bagi kita untuk menapaki hari esok dengan senyuman. Menuntaskan semua tugas-tugas kita dan meraih semua mimpi-mimpi kita. Semoga Allah mudahkan dan kabulkan doa-doa kita. Aamiin


Sunset Quay, Pantai Losari, Makassar

           Sunset Quay, Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan


Rabu, 29 November 2023

Memulai Langkah Baru...

 Assalamu'alaikum...

               Alhamdulillah setelah sekian lama tidak muncul akhirnya bisa kembali corat-coret di blog ini. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat ya....semua keliatan banyak berubah... dan yang tidak bisa kita pungkiri usia kita juga merambah mendekati senja. Perjalanan panjang penuh petualangan dan pengalaman juga telah  kita tempuh hingga berada pada titik saat ini.

    Ada banyak kejadian yang bisa kita kumpulkan menjadi sebuah kisah yang luar biasa. Perjalanan senantiasa meninggalkan cerita penuh hikmah. Senantiasa memberikan pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa jalan yang menghadang di depan kita, namun kita bisa memilih jalan seperti apa yang akan kita tempuh. Saatnya kita terus perbaiki niat untuk perjalanan kita yang lebih baik dalam ridho Ilahi. 
        

              
                            Danau Love, Atabar Distrik Ebungfa, Kabupaten Jayapura, Papua
                                           


Kamis, 09 April 2020

KETIKA RAGA TAK SANGGUP UNTUK MELANGKAH, TAPI HATI JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BERDOA




Langkah-langkah ini telah jauh menyusuri jalanan yang sepi dan sunyi
Tak ada yang kutemukan selain kelelahan yang menyelubungi ragaku
Sejenak menjelma bimbang dalam hatiku, teruskah aku melangkah ataukah sampai disini langkahku
Namun jalanku masih panjang. Sepanjang harapan dan impianku
Haruskah aku mengakhirinya disaat asaku menungguku disana?

Ragaku boleh rapuh, namun hatiku tak pernah lelah untuk berharap
Rabb-ku bersamaku, membimbingku disetiap waktuku. Bahkan ketika aku lalai dalam mengingat-Nya
Dia tidak pernah meninggalkanku..bahkan disaat jatuhku
Haruskah aku berputus asa untuk berharap kepada-Nya?
Ragaku boleh rapuh, tapi hatiku tak boleh berpaling dari-Nya 


                                                                            Jayapura menjelang pergantian hari

Kamis, 29 Mei 2014

Saatnya Membangun Bangsa dimulai dengan Membangun Keteladanan Diri



             Hari-hari belakangan ini fitnah, caci maki dan hujatan begitu banyak mewarnai mass media dan sosmed. Ya rangkaian pesta demokrasi telah begitu banyak melahirkan para pengamat politik  dan juga para jurkam yang saling melemparkan 'black campaign' yang tentunya untuk menjatuhkan lawan politik atau pesaingnya. Monggo silahkan saja mereka saling serang menyerang....saya hanya bisa ngelus dada. Ternyata perjalanan demokrasi di negara ini sedemikian buramnya...maaf saya sedang mencoba melihat dinamika politik negara kita dari kacamata saya sebagai orang awam yang tak paham dunia politik namun bisa melihat dan membaca situasi yang berkembang di masyarakat kita. Sebuah keprihatinan yang mendalam ketika banyak pribadi-pribadi yang kehilangan rasa santun bahkan tak sedikitpun rasa takut dalam dirinya jatuh kedalam kubangan dosa manakala cacian dan hujatan begitu deras bak air bah dia lontarkan kepada lawan politiknya.Prasangka tanpa bukti itu fitnah. Apa iya kita tahu detail kehidupan pribadinya? Kalau kita tidak tahu lebih baik diam. Kalaupun kita ingin tahu maka lihatlah siapa teman dan orang-orang disekelilingnya.“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Tipu menipu dan rayuan gombalpun kadang menghiasi setiap tutur katanya untuk mencari simpati rakyat. Padahal Allah mengajarkan kita untuk berbuat adil. “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8). Mungkin begitulah skenario yang harus dijalani oleh bangsa ini saat kekuasaan menjadi sesuatu yang prestisius untuk direbutkan. Sebuah amanah yang berat untuk dipikul tapi menggiurkan untuk direbut. Sebuah tanggung jawab yang besar yang kelak akan Allah tanyakan di yaumul akhir tapi diperjuangkan dengan cara-cara yang kadang tidak halal.
                Hari-hari ini kita membutuhkan pribadi-pribadi yang penuh keteladanan. Sosok yang santun dalam bertutur kata. Sikap dan pribadinya bisa menjadi teladan siapapun. Dia bisa diterima dan dihargai oleh siapa saja. Adakah pribadi yang ideal seperti itu? Pribadi yang sempurna sangatlah tidak mungkin. Karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Azza wa Jalla, Robbul Izzati. Dan pribadi yang menjadi teladan sepanjang zaman hanyalah Rasulullah SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21). Generasi terbaikpun adalah generasi para sahabat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198).
               Mungkin kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Tapi mereka telah memberikan pelajaran terbaik bagi kita. untuk kita ikuti dan kita teladani. Mulailah dari diri kita masing-masing. Marilah kita munculkan keteladanan dalam diri kita. Kita bangun keluarga kita menjadi model keluarga seperti masa rasul dan shahabat. Jikalau kita mampu mewujudkannya maka tidak mustahil akan terbentuk masyarakat yang baik dan akan lahirlah bangsa yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur

                   Kita sebagai bagian dari masyarakat, tentunya memiliki keinginan agar rakyat bangsa ini, selamat dunia dan akhirat, menjadi masayarakat yang adil, makmur, sejahtera, diberkahi dan diridloi Allah (baldatun thayyibatun warabbun ghafur). Hal ini disebabkan karena masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah merupakan cita-cita tertinggi masyarakat khususnya ummat Islam.
                   Namun usaha kita untuk menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur ini belum pernah terlihat eksistensinya dalam keseharian kita. Salah satu contoh adalah penerapan aqidah dan keimanan. Aqidah dan keimanan yang merupakan pondasi umat Islam di Dunia ini dengan cepatnya mudah goyah, hanya karena urusan perut dan dibawah perut. Sehingga sering membuat manusia gelap mata dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah sehingga mnusia tidak akan pernah bisa menjadi orang bertaqwa. Padahal kunci menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah Iman dan Taqwa, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surat al-‘Araf : 96
(Lau anna ahla al-Quraa aamanu wattaqauu, lafatahna ’alaihim barokatin mina al-samaai wa al-ardl, walakin kadzdzabuu fa’akhadznahum bima kaanuu yaksibuun).Al-Aayah.

Artinya:”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dalam ayat ini Allah berjanji akan menjadikan masyarakat negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur jikalau masyarakatnya beriman dan bertaqwa. Namun jika manusia yang ada di dunia ini tidak beriman dan bertaqwa, maka Allah akan berikan adzab sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.
Namun, yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertaqwa? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertaqwa itu? yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.
           So mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita baru kemudian masyarakat dan bangsa kita. Membangun keteladanan dari diri kita untuk melahirkan baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Jangan sampai kita terjebak dalam perkataan-perkataan dan perbuatan yang hanya akan menjatuhkan diri kita pada perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Berbuat dan berkarya dengan baik dan menjauhkan diri dari kehancuran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Karena, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."(QS. Al-Baqarah : 195).